Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kesenian Banyuwangi’ Category

Para budayawan Banyuwangi melalui DKB (Dewan Kesenian Blambangan) pernah mengeluhkan tentang rendahnya kualitas klip musik Banyuwangi. Keluhan dan keberatan ini malah akhirnya berkembang pada kritik-kritik yang lebih detail. Misalnya kritik terhadap pakaian penari latar, gerakan tari yang dianggap tidak senonoh, bahkan sampai kriteria pakaian-pakaian yang dianggap tradisional. Kalau klip lagu Banyuwangi ya pakaian harus pakaian adat Banyuwangi, katanya.  Jangan campur baur yang bisa mengaburkan identitas budaya Banyuwangi. Dan berbagai keluahan yang lain soal klip lagu Banyuwangi.

Menindaklanjuti keresahan ini maka dikumpulkanlah para produsen dan pekerja rekaman di pendopo kabupaten dengan mendatangkan para kritikus lokal. Pada kesempatan itu diputar mana klip yang tak baik dan dijelaskan bagaimana sebaiknya. Termasuk juga bagaimana menyusun syair yang bagus dengan kadar sastra Using yang kuat.

Tapi begitulah idealisme kadang berlawanan dengan kecenderungan dan keinginan masyarakat. Masyarakat tetap tak peduli mana yang klip baik mana tidak. Masyarakat punya penilaian sendiri apa yang kan dibeli. Dan nyatanya apapun bentuknya produksi klip, diterima saja oleh masyarakat. Akhirnya pekerja rekaman kembali pada sikap pragmatis. Bikin klip yang sederhana tidak berbiaya tinggi tapi diminati masyarakat. Sekali lagi pasar memang memiliki keunikan tersendiri. Kiranya kita percaya kepada perjalanan waktu. Semakin beragam yang dicerna masyarakat semakin lama juga proses belajarnya masyarakat. Kiranya harapan kita pada idialisme visualisasi, misalnya bagaimana klip lagu itu benar-benar mencerminkan realitas pada masyarakat. Klip yang mempu memberikan penyadaran terhadap masyarakat, dan lain-lain, kita tunggu saja dan pasti sejalan paralel dengan kedewasaan masyarakat.

 

Read Full Post »

Lagu Banyuwangi awalnya untuk identitas daerah. sesuatu yang dianggap ideal. Namun sejak awal perkembangannya sudah dikuasai kapital. Rekaman pertama di belakang pendopo itu sudah melibatkan studio Sarinande dan Ria. Dua studio rekaman di Banyuwangi waktu itu yang digandeng pemda sebagai rekanan. Rekanan menyediakan alat rekam dan penggandaan serta pemasaran. Pengarang lagu bahkan awalnya tidak dibayar. Kondisi waktu itu memungkinkan hal tersebut. “pokoke lagu direkam, girang wis,” kata Andang CY. Namun ketiak persebaran kaset telah mencapai ribuan dan sampai di daerah luar Banyuwangi, pengarang memperoleh kepopuleran, produser memperoleh keuntungan, maka hukum pasar yang berlaku.

Relasi antar seniman dan produser serta pemda di lain pihak, berpusar antara logika pasar dan idialisme. Produser sudah merasa membutuhkan pengarang, pengarang lagu juga merasakan hal yang sama. Maka sedikit demi sedikit persaingan antar pengarang muncul, demikian juga persaingan antar produser, walaupun diakui oleh mereka persaingan waktu itu  tidak sengit. Yang jelas bagi para pengarang semacam Andang CY, Basir dan Mahfud  idialisme awal yang penting syairnya dikenal masyarakat dan pesannya moral sosialnya sampai, telah luntur. “Serta ana dolare, ana picise, bida pena. Mulai napsi-napsi. Dhewek-dhewekan.” Kata Andang CY. Pada waktu itu Andang CY sampai menciptakan syair sebagai  self critic (betulkan istilahnya, mas) sessama pengarang yang telah memburu uang. Syairnya berjudul picis (uang): picis rasane keliwat manis, tapi picis iku angkuh, iman kukuh ditendhang rubuh,  wong kang mata picisen tega nyawang kanca lempiriten. (more…)

Read Full Post »

HASAN BASRI

 

 

 

Pethetan, ya kembang pethetan

Sun tandur ring bucu petamanan

Isuk soren sing kurang siraman

Sun jaga sun rumat temenanan

 

Lirik lagu ciptaan Andang CY di atas salah satu dari puluhan lagu yang populer pada tahun 70-an. Lagu-lagu Banyuwangi (Banyuwangen) mengalami kepopuleran setelah ada usaha kasetisasi pada waktu itu. Seiring dengan perkembangan teknologi rekaman yang mudah dijangkau sekarang ini, lagu-lagu Banyuwangi dan kesenian Banyuwangi pada umumnya justru mendapatkan lahan yang subur untuk berkembang. Kesenian-kesenian tradisi yang  awalnya berbasis ritus sosial itu ketika bersentuhan dengan entitas lainnya seperti modal dan negara  justru menunjukkan vitalitasnya sebagai seni komunal yang sangat dekat dengan masyarakat. Sekarang ini di bedak-bedak penjual CD di sepanjang jalan di Banyuwangi, sangat didominasi produk lokal utamanya lagu-lagu Banyuwangi dengan berbagai aransmen dan jenis musik. Puluhan album keluar dalam setiap bulan dan selalu diburu pembeli. Lagu-lagu Banyuwangi menjadi menu utama hiburan dalam berbagai kesempatan. Semua radio di Banyuwangi bahkan juga di seluruh Jawa Timur dan sebagian Bali memiliki mata acara lagu–lagu Banyuwangi. Pengamen di bis dan lampu merah tak ketinggalan juga menyanyikan lagu lokal.  Kasus Banyuwangi ini menepis kehawatiran dan anggapan banyak pihak bahwa biasanya kesenian  lokal ketika berhadapan dengan modernitas akan mengalami marginalitas, dan ditinggalkan pendukungnya.

 

Politik Identitas dan Peranan Pemerintah

Industri rekaman di Banyuwangi berawal dari upaya pemerintah daerah menemukan kembali kekhasan daerah sebagai identitas. Adalah Hasan Ali pegawai kesra Pemda Banyuwangi kala itu dengan didukung oleh bupati Joko Supaat Slamet berinisiatif merekam lagu-lagu berbahasa Using dalam rangka menggairahkan kesenian dan budaya lokal. Lagu-lagu Using sendiri sebelumnya telah tertempa dan mengalami kegairahannya sendiri seiring dengan digunakannya lagu Using dalam ranah politik, terutama oleh Lekra (PKI) dan LKN (PNI).

Dengan peralatan yang sederhana bertempat di belakang pendopo kabupaten, rekaman dilaksanakan pada malam hari untuk menghindari suara bising di bawah rindang pohon mangga. Tidak jarang rekaman harus dilakukan berulang-ulang dalam beberapa malam karena belum ada teknik dubbing. Bahkan rekaman harus dilakukan ulang, karena salah satu alat musik kejatuhan buah mangga dan mengganggu konsep bunyi yang diharapkan. (more…)

Read Full Post »

Di Banyuwangi berkembang berbagai jenis kesenian tradisional. Ada janger, kuntulan, kundaran, angklung caruk, barong, rengganis, gandrung dan masih banyak yang lain. Di antara sejumlah kesenian tradisional tersebut, gandrung menempati posisi istimewa sekaligus unik dilihat dari dinamika perkembangannya kaitan relasinya dengan negara, agama dan masyarakat.

Gandrung bagi banyak pengamat dan peneliti tak banyak beda dengan tayub, lengger, gambyong, teledek dan sejenisnya. Sebuah kesenian yang menampilkan seorang sampai empat orang perempuan dewasa menari, menembang, sendirian maupun berpasangan dengan penonton pria (pemaju) pada malam hari dengan iringan orkestra sederhana; gong, kethuk, keluncing (trianggel), biola, kendang. Namun bagi para tokoh di Banyuwangi gandrung tidak sekedar kesenian profan sekedar bersenang-senang menghabiskan malam, tapi sebuah kesenian yang sarat dengan nilai historis dan kepahlawanan. (more…)

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.